Feature news

Tampilkan postingan dengan label placx pox. Tampilkan semua postingan

 Black box dalam kondisi direndam air

 

Black box atau kotak hitam Sriwijaya Air SJ182 sudah ditemukan, berupa flight data recorder (FDR). Black box ternyata harus selalu direndam air.

Seperti dilansir dari Aerotime, black box mesti terendam di air untuk mengaktifkan sensor underwater locator beacon (ULB). Dengan begitu, benda ini bisa ditemukan saat tenggelam di air.

ULB adalah teknologi di dalam kotak hitam yang digunakan untuk mengirimkan sinyal atau ping ketika sensornya menyentuh air. 

Fungsinya untuk memudahkan black box ini ditemukan setelah kecelakaan pesawat yang terjadi di laut, seperti kejadian yang menimpa Sriwijaya Air.

Teknologi ULB bisa mengirimkan sinyal dari kedalaman laut hingga 4.200 meter. 

Semua kotak hitam memiliki suar pencari lokasi bawah air yang dapat mengirimkan sinyal saat kontak dengan air.

 

Seperti diketahui, black box hanyalah istilah saja. 

Benda ini berwarna oranye terang dan berbentuk silinder bukan kotak. 

Warna oranye untuk memudahkan penemuan di dalam air karena oranye adalah warna yang paling kontras di dalam laut.

Black box merekam data waktu, ketinggian, kecepatan angin, arah pesawat hingga setiap keputusan pilot. 

Black box pun memiliki rekam suara di kokpit yang memuat suara informasi seperti mesin hingga bunyi sinyal darurat atau peralatan yang macet.

Mengutip dari Flight Radar 24, black box terdiri dari dua kombinasi perangkat yaitu CVR (Cockpit Voice Recorder) dan FDR (Flight Data Recorder). 

FDR merekam beragam data tentang semua aspek pesawat saat terbang dari satu tempat ke tempat lain. 

Sementara CVR merekam percakapan di kokpit dan suara-suara seperti transmisi radio dan alarm otomatis.

Kedua informasi penting ini akan membantu tim KNKT mengidentifikasi penyebab kecelakaan. FDR Sriwijaya Air SJ182 sudah ditemukan, kini tim gabungan akan mencari CVR.


Learn more »

Kenapa Black Box Berwarna Orange Bukan Hitam?

Black box alias kotak hitam yang menjadi benda penting untuk menguak penyebab kecelakaan pesawat, aslinya berwarna orange atau oranye. Kenapa black box berwarna orange?

Tentu bukannya tanpa tujuan, pemilihan warna oranye ditentukan agar black box mudah ditemukan karena warnanya mencolok. 

Ini untuk memudahkan tim SAR (Search And Rescue) dalam menemukan black box pesawat jika mengalami kecelakaan. Jika berwarna hitam, tentu akan menyulitkan pencarian, terutama di kondisi gelap atau di dalam laut.

Dihimpun dari berbagai sumber, Black box diciptakan pertama kali pada 1950-an oleh David Warren. 

Dia menciptakan black box terilhami dari kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa ayahnya. Awal diciptakan, nama perangkat ini bukan black box melainkan ARL Flight Memory Unit.

Perusahaan asal Inggris S Davall and Son yang pertama kali mengkomersilkan black box, awalnya menamai perangkat ini Red Egg atau Telur Merah karena bentuk dan warnanya.

Belum diketahui secara pasti asal muasal kotak berwarna oranye ini disebut black box. 

Sementara itu, para ahli penerbangan menyebut black box dengan sebutan electronic flight data recorders.

Untuk diketahui, model pertama black box memang punya bagian dalam yang berwarna gelap. Kemungkinan besar inilah kenapa perangkat ini disebut black box.

Pendapat lain mengatakan, penamaan black box dimulai oleh penyebutan dari seorang jurnalis. 

Suatu kali saat dirinya bertugas, dia menemukan kotak hangus berwarna hitam dari sebuah pesawat yang mengalami kecelakaan.

Yang jelas, hingga kini masyarakat di seluruh dunia memanggil perangkat ini sebagai black box atau kotak hitam. 

Benda ini sangat penting untuk membantu tugas investigator menganalisis detik-detik terakhir sebelum kecelakaan terjadi.

Learn more »

Kenapa Data Black Box Pesawat Tidak Disimpan di Cloud?

Black box menjadi benda paling dicari saat terjadi kecelakaan pesawat. 

Banyak orang bertanya kenapa data black box pesawat tidak disimpan di cloud seperti yang sering dilakukan dengan file lainnya.

Ini bukan argumen baru. 

Pertanyaan serupa kerap muncul setiap kali terjadi kecelakaan pesawat, terutama di masa sekarang, di mana perkembangan teknologi memungkinkan sejumlah maskapai penerbangan menyediakan layanan internet di pesawat.

Banyak orang berasumsi, jika informasi di dalam black box di-upload secara real time ke cloud, akan mempermudah proses investigasi penyebab kecelakaan, terutama saat black box tidak bisa ditemukan. Apa benar demikian?

Saat ini memang sudah ada sejumlah perusahaan yang mencoba menawarkan teknologi penyimpanan data penerbangan secara real time ke cloud. 

Namun nyatanya tidak semudah itu menerapkan penyimpanan cloud untuk data black box berikut ini sejumlah tantangannya.

 

Keamanan data

 

Dikutip dari Science How Stuff Works, faktor yang paling disoroti terkait penyimpan data black box di cloud adalah keamanan saat pengaplikasian streaming data penerbangan. 

Dari tingkat keandalan enkripsi sistem streaming, muncul juga pertanyaan tentang siapa yang akan memelihara data yang di-streaming, dan di mana data itu akan disimpan.

Pencurian atau pengubahan informasi rentan terjadi saat data dikirim atau saat data sudah tersimpan di server. 

Dengan teknologi cloud saat ini yang memanfaatkan lebih dari satu jaringan server, risiko ini semakin tinggi.

 

Rentan gangguan

 

Perekam penerbangan modern menyimpan hingga 25 jam data dalam satu putaran secara terus-menerus. 

Mereka memantau setidaknya 88 parameter seperti pengaturan kontrol kokpit, informasi tentang mesin, waktu, dan lain-lain. Perekam suara juga terus merekam suara di kokpit.

Meski semua informasi black box dapat dikirim langsung ke cloud, tidak ada jaminan bahwa streaming data ke cloud selalu berfungsi, terutama selama detik-detik kritis menjelang terjadi insiden. 

Transmisi wireless juga rentan terhadap badai listrik dan gangguan lainnya.

 

Jumlah data dan jaringan internet

 

Jumlah data yang dihasilkan black box setiap detiknya tidaklah sedikit. Maka diperlukan jaringan internet yang cepat dan stabil. 

Teknologi internet melalui jaringan satelit merupakan salah satu alternatif yang bisa digunakan untuk mengirim informasi ke cloud dari pesawat, karena jangkauannya lebih luas dari jaringan seluler maupun jaringan internet wireless lainnya.

Selama berada di dalam jangkauan suatu satelit, proses pengiriman data bisa dilakukan. 

Namun kondisi pesawat yang selalu bergerak dan faktor cuaca akan mempengaruhi kecepatan transfer data. Kemungkinan data tidak terekam dengan utuh bisa terjadi.

 

Biaya mahal

 

Biaya untuk menerapkan teknologi penyimpanan data black box ke cloud secara real time tidaklah sedikit. 

Pertama biaya server untuk menyimpan data-data tersebut, dan di dalamnya termasuk biaya untuk mengamankan data.

Kedua, biaya jaringan. Selain jaringan seluler, jaringan internet melalui satelit merupakan alternatif yang bisa dipakai. 

Komunikasi melalui satelit masih tergolong mahal meski tren harganya semakin menurun seiring perkembangan teknologi satelit yang kian pesat.

Selain itu, tidak mudah memperbarui pesawat lama dengan peralatan baru. 

Setiap peralatan membutuhkan banyak uang, tak hanya hitungan dari segi desain dan produksi, tetapi juga biaya bahan bakar untuk membawa beban ekstra itu di pesawat pada setiap penerbangan, setiap hari, selama masa pakai pesawat.

Persaingan di dunia penerbangan yang sangat ketat, baik di kelas budget maupun full service, membuat maskapai penerbangan sangat berhati-hati dalam hal pengeluaran.

 

Regulasi

 

Faktor lain yang juga menjadi alasan mengapa sistem streaming data black box ke cloud belum diterapkan di semua pesawat adalah belum adanya regulasi terkait hal ini.

Di luar itu, banyak kepentingan terlibat dalam sebuah kecelakaan pesawat, dan black box menyimpan semua informasi sensitif dari semua sensor yang ada di pesawat. 

Beberapa informasi tersebut sangat rahasia karena jika jatuh ke tangan yang salah, bisa dimanfaatkan untuk hal buruk.

Untuk semua alasan tersebut, black box meski teknologinya disebut masih jadul, tetap diandalkan karena bersifat mandiri, tidak rentan gangguan, tahan api, tahan guncangan, dan tahan air, dengan baterai internal sendiri yang memungkinkannya tetap berfungsi meski pesawat hancur.

Learn more »

Data Black Box Pesawat Sudah Bisa Disimpan di Cloud

Kenapa data black box tidak disimpan di cloud? Pertanyaan ini kerap muncul setiap kali ramai pemberitaan evakuasi kecelakaan pesawat seperti kejadian Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh di Kepulauan Seribu. Perusahaan ini coba mewujudkannya.

Ada banyak tantangan yang menyebabkan sistem streaming data black box secara real time tak diterapkan di semua pesawat. 

Sementara itu, sejumlah perusahaan saat ini berupaya menawarkan teknologi tersebut.

 

FLYHT Aerospace Solutions

 

FLYHT Aerospace Solutions di Kanada menyediakan layanan streaming data black box sesuai permintaan. 

Disebutkan FLYHT, perusahaannya sudah punya lebih dari 50 pelanggan, dan sistemnya terpasang di sekitar 400 pesawat. 

Dikutip dari Cbc.ca, First Air Canada adalah satu-satunya maskapai penerbangan yang secara terbuka mengumumkan bahwa mereka menggunakan sistem milik FLYHT.

Sistem ini tidak secara terus menerus mengirim data, namun akan aktif jika terjadi kejadian abnormal. 

Saat terjadi insiden, sistem akan dengan cepat mengirimkan data ke server maskapai untuk analisis dan menerapkan tindakan korektif.

"Jika ada yang salah, kami dapat memberikan informasi lebih cepat tentang apa yang terjadi. 

Kami bisa mulai mengumpulkan informasi dan bersama-sama menguak teka-teki (penyebab kecelakaan) lebih cepat, jadi pihak penerbangan bisa mengabaikan berbagai konspirasi tentang insiden yang bertebaran di luar sana," kata Graham Ingham yang bekerja di FLYHT.

Adapun perangkat tersebut mirip dengan perangkat black box yang sudah umum digunakan di pesawat selama puluhan tahun, yakni terdiri dari Flight Data Recorders (FDR) dan Cockpit Voice Recorders (CVR).

Kendala di balik kecanggihan ini adalah biaya. 

FLYHT menawarkan layanan dengan biaya sekitar USD 100 ribu per pesawat, termasuk perangkat keras dan instalasi. 

Jika ingin menerapkan konsep ini tentu biaya yang akan dikeluarkan oleh sebuah perusahaan penerbangan tidaklah kecil. Apalagi bandwidth satelit juga tidak murah.

 

Honeywell Aerospace

 

Honeywell Aerospace di Arizona, Amerika Serikat bekerja sama dengan manufaktur kedirgantaraan Curtiss-Wright Corp mencoba melakukan streaming data penerbangan yang direkam oleh black box ke cloud lewat konektivitas internet di pesawat.

Mereka juga bekerja sama dengan operator satelit Inmarsat untuk memastikan solusi black box di cloud ini dapat diandalkan dan bisa digunakan maskapai penerbangan komersial, transportasi kargo, dan pesawat jet bisnis.

"Kami melihatnya dengan banyak cara berbeda," kata Vice President dan General Manager, Software and Services Honeywell Aerospace John Peterson seperti dikutip dari Runwaygirlnetwork.

Salah satu opsinya adalah menetapkan data frame dan frame rate yang masuk akal hingga peristiwa tertentu, kemudian mempercepatnya. 

Ini seperti menarik seluruh bagian data setiap lima menit atau setiap 15 menit, lalu tiba-tiba ketika sebuah peristiwa terjadi, streaming akan menarik data setiap 100 milidetik.

"Cara lainnya mengambil subset dari data dan menganggapnya sebagai streaming berkelanjutan. 

Seperti halnya dengan data, ada banyak cara berbeda untuk melakukannya, biaya terkait, dan aspek mana yang paling berharga," jelas Peterson.

Singkatnya, Honeywell secara efektif mengaku siap untuk menangani layanan ini dan mengelolanya dengan cara apa pun yang diinginkan pengguna.

Namun memang ada kendala peraturan yang harus diatasi sebelum industri penerbangan bisa mewujudkan sistem streaming data black box ke cloud. 

Peterson tidak menyebut time frame kapan teknologi ini bisa segera ditemui.

"Ada banyak hal yang terjadi di tingkat regulator dan jaringan untuk mewujudkan ide penyimpanan data black box di cloud," ujarnya.

Nyatanya, memang tidak mudah dalam menerapkan sistem penyimpanan data black box ke cloud. 

Selain terkait biaya dan regulasi, banyak faktor lain yang turut membatasi konsep ini, mulai dari keamanan data, kerentanan terhadap gangguan, besaran data yang ditransfer, hingga kestabilan koneksi internet.


Learn more »

Cara Kerja Black Box Ungkap Penyebab Kecelakaan Pesawat

 

Black box menyimpan misteri yang bisa mengungkap penyebab kejadian peristiwa kecelakaan pesawat. 

Perangkat ini menyimpan percakapan yang terjadi antara pilot kepada kru atau menara pengawas. Bagaimana cara kerjanya?

Dikutip dari Flightradar24, black box adalah istilah dalam industri penerbangan untuk menyebut perekam data penerbangan elektronik, yang menggambarkan Cockpit Voice Recorder (CVR) atau Flight Data Recorder (FDR), atau kombinasi keduanya.

Pada dasarnya, jika ada masalah yang muncul dengan pesawat, terutama jika ada kecelakaan serius dan tidak mungkin untuk berbicara dengan pilot tentang apa yang terjadi, data dari black box dapat membantu merekonstruksi apa yang sebenarnya terjadi.

 

Data yang direkam FDR

 

FDR terus mencatat beragam data (sekitar 700 parameter berbeda) tentang semua aspek pesawat saat terbang dari satu tempat ke tempat lain.

Bagian ini antara lain merekam ketinggian, kecepatan udara, arah penerbangan, percepatan, vertikal, pitch, roll, serta status autopilot Status yang terekam mampu memberikan informasi hingga 1.000 karakteristik pesawat yang dapat membantu investigasi.

 

Data yang direkam CVR

 

CVR yang terletak di kokpit, merekam percakapan di dek penerbangan dan suara lain seperti transmisi radio dan alarm otomatis. 

Yang terekam dalam CVR kurang lebih adalah suara mesin, peringatan, suara pembicaraan pilot dan berbagai bunyi lainnya. 

Dari sini, parameter seperti kecepatan pesawat, kegagalan sistem hingga waktu dapat ditentukan.

 

Empat microphone di kokpit

 

Pada salah satu perangkat black box terdapat microphone yang berfungsi sebagai penyalur data untuk CVR. 

Microphone ini akan menyalurkan data suara yang terekam terlebih dahulu ke associated control unit yang menyediakan audio teraplifikasi ke CVR.

Empat micrhophone ini digunakan sebagai headset pilot, co-pilot, anggota ketiga, jika ada, dan yang terakhir di dekat tengah-tangah kokpit.

 

CVR rekam suara 30 menit terakhir

 

CVR menggunakan sistem looping di mana tape tersebut akan terus terulang dan mampu merekam hal yang baru dan mampu menghapus yang lama setiap 30 menit sekali. 

Jadi CVR biasanya merekam suara saat 30 menit terakhir.

Sistem kerjanya, material baru direkam dan material lama dihapus, dan untuk yang menggunakan penyimpanan solid-state, CVR dapat merekam hingga dua jam.

 

FDR terhubung ke kabel sensor

 

Karena FDR merekam semua aspek pesawat saat terbang dari satu tempat ke tempat lain, bagian ini dirancang tersambung langsung pada kabel-kabel sensor yang terletak di berbagai area. 

Dari sinilah FDR dapat merekam seluruh keadaan yang ada di dalam pesawat.

 

Proses evakuasi

 

Black box dibekali underwater locator beacon (ULB) yang mengirimkan gelombang ultrasonik yang dapat dikenali sonar, sehingga para evakuator dapat langsung mencarinya.

Saat proses evakuasi, diperlukan penanganan khusus ketika membawa black box agar tidak ada kerusakan lebih terhadap perangkat yang dapat menghilangkan data yang terekam.

 

Membaca black box

 

Setelah diamankan, black box akan dibaca oleh tim investigator untuk menguak penyebab kecelakaan. 

Teknisi akan mencopot bahan pelindung dan membersihkan sambungan di black box secara hati-hati agar data yang terekam tidak terhapus.

File audio atau data pesawat harus diunduh serta diduplikasi. Awalnya, data yang diunduh masih berbentuk mentah. 

Oleh karena itu harus melalui proses pembacaan sandi untuk kemudian diubah dalam bentuk grafik.

Terkadang, investigator juga menerapkan analisis spektral, langkah yang dipakai untuk menguji suara sehingga membuat ilmuwan mampu memilih suara-suara yang bisa didengarkan atau menandai alarm pertama yang berbunyi hingga terjadi ledakan.

Investigator yang menganalisis black box terdiri dari perwakilan dari pihak pesawat dan juga pihak produsen pesawat, serta spesialis bahasa atau bahkan penerjemah. 

Proses ini memakan waktu hingga mingguan bahkan bulanan hingga lengkap sepenuhnya.

Learn more »

Penemu Black Box Terilhami Kehilangan Ayah karena Kecelakaan Pesawat

Penemu black box David Ronald de Mey Warren atau lebih dikenal dengan David Warren, mungkin tidak menyangka jika temuannya akan berumur panjang dan bermanfaat hingga sekarang. 

Terciptanya black box rupanya dilatarbelakangi kehilangan sosok ayahnya yang meninggal karena kecelakaan pesawat.

Ayahnya, Rev Hubert Warren meninggal di tahun 1934 dalam insiden yang dikenal dengan peristiwa hilangnya Miss Hobart di Selat Bass. 

Otoritas Penerbangan Sipil Australia melakukan pencarian, namun tidak membuahkan hasil. 

Peristiwa itu kemudian ditetapkan sebagai kecelakaan pesawat pertama di Australia, dan semua penumpang dinyatakan tidak selamat.

 Kado terakhir dari ayahnya yang diterima David yang saat itu berusia 9 tahun adalah crystal set. 

Gadget ini populer pada masa itu untuk mendengarkan radio. Crystal set dari sang ayah mengantarkannya pada kecintaan terhadap hobi merakit radio dan dunia sains.

 

Prototipe pertama black box

 

Masa sekolah David diisi dengan hobi merakit radio. 

Hingga di kemudian hari, David mendesain prototipe black box yang membawanya menjadi penemu alat yang sangat penting dalam dunia penerbangan.

Saat pertama kali dikembangkan, alat ini belum disebut sebagai black box, melainkan ARL Flight Memory Recorder. Prototipe pertama black box dibuat tahun 1956.

Saat itu, pada rentang 1952-1983, David bekerja di Aeronautical Research Laboratories (ARL) sebagai peneliti utama sains yang berpusat di Melbourne, Australia.

Dia terlibat dalam penyelidikan kecelakaan pesawat komersial bertenaga jet pertama di dunia bernama Comet yang diluncurkan pada 1952. 

Namun, tiga pesawat Comet hilang sesaat setelah lepas landas dan menewaskan semua penumpang.

Ide merancang black box yang sudah dipikirkannya sejak kecil semakin kuat ketika melihat miniatur alat perekam di sebuah pameran dagang. 

David berpikir, seandainya peneliti bisa mengetahui apa yang terjadi pada menit-menit sebelum pesawat jatuh, hal ini dapat membantu mencegah kecelakaan yang sama di kemudian hari.

"Saya melihat sebuah gadget yang membuat saya terpesona, sebuah perekam miniatur pertama di dunia yang dimasukkan ke dalam saku. 

Saya menggabungkan kedua ide itu. Jika seseorang menggunakan salah satu dari ini di pesawat, dan kita dapat menemukannya di reruntuhan pesawat yang mengalami kecelakaan, kita bisa tahu apa yang menyebabkannya," kata David dalam sebuah wawancara pada 2003 yang dikutip dari Independent.co.uk.

 

Sempat Ditolak

 

Kepada rekannya, David menyampaikan ide tersebut. 

Namun karena saat itu tim ARL sedang fokus menyelidiki kecelakaan Comet, David diminta mengesampingkan mimpi menciptakan black box.

 

Tak menyerah, di kemudian hari David kembali mengemukakan ide membuat ARL Flight Memory Recorder. Ide tersebut pada awalnya tidak diterima dengan baik oleh maskapai penerbangan. Pilot menolak konsep tersebut, karena takut alat ini digunakan untuk memata-matai kru. Angkatan Udara Australia bahkan berpendapat alat seperti itu tidak diperlukan.

 

Untungnya, pada tahun 1958 ada kunjungan seorang pejabat Inggris bernama Robert Hardingham atau Sir Robert. 

Dia adalah Chief Executive Air Registration Board. Kunjungannya ke Australia saat itu mengubah situasi. 

Mendengar ide David, Sir Robert menyadari pentingnya penemuan tersebut dan mengatur agar David berkunjung ke Inggris untuk mendemonstrasikan prototipe black box yang dibuatnya.

Singkat cerita, tentu saja idenya itu diterima dengan baik. 

Dalam beberapa tahun kemudian, black box akhirnya berhasil dikomersilkan oleh perusahaan Inggris S. Davall and Son. 

Awalnya, perusahaan tersebut menamainya Red Egg atau Telur Merah karena karena bentuk dan warnanya.

Kegigihan David mengajukan ide black box membuahkan hasil. Di akhir tahun 1960-an, perangkat itu wajib ada di semua pesawat Australia. 

Tak lama setelah itu, keberadaan black box pun menjadi persyaratan wajib semua pesawat di seluruh dunia.

Pekerjaan Warren di Defense Science and Technology Organization berlanjut hingga pensiun pada tahun 1983. 

Pada tahun 2001 ia menerima penghargaan Lawrence Hargrave untuk pencapaian luar biasa dalam aeronautika Australia. 

Kemudian pada tahun 2002, ia ditunjuk sebagai Officer di Order of Australia karena jasanya pada industri penerbangan.

David yang lahir di Groote Eylandt, Australia pada 3 Maret 1925 ini tutup usia di Melbourne, Australia pada 19 Juli 2010. 

Namanya harum dan akan selalu dikenang melekat dengan penemuan black box yang terilhami dari kehilangan ayah tercintanya.

Learn more »

Zaman Sudah Canggih, Teknologi Black Box Masih Jadul


Kotak hitam pesawat atau black box menyimpan misteri yang bisa mengungkap penyebab kejadian kecelakaan. 

Ia berfungsi untuk menyimpan percakapan yang terjadi antara pilot kepada krunya atau menara pengawas.

Selain itu, black box juga bisa menyimpan berbagai informasi dari banyak sensor di pesawat terkait masalah yang bisa jadi penyebab kecelakaan. 

Nantinya, informasi yang terekam akan dijadikan petunjuk oleh pihak berwenang untuk mengungkap misteri penyebab kecelakaan.

Walau memiliki kemampuan mumpuni, namun alat ini disebut sudah jadul alias ketinggalan zaman. Apalagi di tengah pesatnya perkembangan teknologi pada zaman saat ini.

Tahukah Anda kalau black box yang jamak digunakan saat ini pertama kali ditemukan pada 1950an? Lantas di bagian mana ketinggalan zamannya? Sebelum sampai ke bagian itu ada baiknya kita menelusuri lebih dulu secara singkat perjalanan lahirnya black box.

Adalah Dr. David Warren dari Australia yang pertama kali mendesainnya. 

Ia terinspirasi dari kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa ayahnya pada 1934 saat dirinya masih berusia 9 tahun.

Prototipe pertama black box dibuat pada 1956 dengan nama ARL Flight Memori Unit. 

Butuh sekitar 5 tahun bagi Warren hingga perangkat buatannya dianggap penting oleh dunia penerbangan.

Sejak saat itu, tidak ada perubahan berarti terhadap fungsi maupun fitur yang dimilikinya. 

Black Box terdiri dari dua bagian, yaitu Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (VCR).

Berdasarkan keterangan dari Anthony Brickhouse, dari Embry-Riddle Aeronautical University, kampus penerbangan di Amerika Serikat, 

FDR bertugas menyimpan parameter penerbangan selama 25 jam sebelum ditimpa dengan rekaman baru. 

Informasi tersebut meliputi kecepatan, ketinggian, waktu, hingga arah pesawat.

Sedangkan VCR menyimpan percakapan antara pilot kepada krunya atau menara pengawas. 

Periode rekamannya selama dua jam, dan setelahnya ia akan terus merekam ulang dengan sendirinya dan menimpa data sebelumnya.

Black box terbaru telah menggunakan memori jenis solid-state sebagai media penyimpanannya -- dalam satu hal ini memang tak ketinggalan zaman. 

Adapun kapasitas penyimpanannya bisa menampung sampai 700 parameter data penerbangan.

Selain itu, ada standar keamanan juga yang harus dimiliki black box, yaitu tahan api, tahan air, dan mampu menahan tekanan hingga di kedalaman 6.000 meter di bawah permukaan laut. 

Oh ya, black box tak berwarna hitam, melainkan jingga agar mudah dilihat.

Melihat sederetan kemampuannya itu, di bagian mana sih ketinggalan zamannya? Nah, hal ini mulai tampak dari cara untuk menemukan black box.

Ketika ia jatuh ke dalam air, maka black box akan mengirimkan getaran. Sayang, alat pelacaknya itu memiliki baterai yang hanya tahan sampai 30 hari. 

Lewat dari situ, pencariannya akan semakin sulit.

Salah satunya terjadi pada kasus kecelakaan Air France pada 2009. Petugas butuh waktu sampai dua tahun untuk menemukan black box.

Sejak kejadian tersebut, Prancis punya sejumlah ide untuk memberikan pengembangan terhadap perangkat tersebut. 

Beberapa di antaranya adalah mekanisme ketapel ketika ia jatuh di permukaan air, sampai peningkatan ketahanan pelacaknya sampai 90 hari.

Mungkin ada yang berpikir, kenapa tidak disematkan GPS saja? Sayang, tidak seperti smartphone, teknologi tersebut sulit diterapkan pada black box.

 

Alasannya, perangkat ini butuh bandwidth super besar untuk mengirimkan informasi karena besarnya data yang disimpannya. 

Selain itu, kecepatan akses data di tiap negara juga berbeda-beda sehingga cara tersebut masih sulit diimplementasikan.

Oke, jika cara menemukannya sulit diubah, bagaimana dengan metode penyimpanan datanya? Salah satu ide yang muncul adalah mengirim data rekaman di kokpit serta informasi penerbangan ke satelit dan disimpan di media penyimpanan miliknya.

Tidak hanya menghilangkan kekhawatiran jika black box tidak dapat ditemukan, tapi rekaman yang bisa didengarkan secara real-time juga berpotensi untuk mencegah kecelakaan dengan mendeteksi masalah yang terjadi. 

Kedengarannya bagus, tapi implementasinya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Faktor penghalangnya adalah uang. 

Ide tersebut akan sangat mahal untuk diwujudkan. 

Pihak maskapai penerbangan harus menambahkan komponen-komponen tertentu di seluruh armadanya, memesan satelit, dan mengamankan penyimpanan data.

Sekadar informasi, bandwidth data menggunakan satelit juga sangat mahal. Biayanya sekitar USD 1 per kilobyte, dengan potensi terus meningkat seiring waktu berjalan.

"Seperti semua hal, kalian tahu uang akan selalu jadi masalah," ucap Brickhouse, sebagaimana dikutip dari Popular Science.

Menarik untuk ditunggu bagaimana black box akan berkembang mengikuti inovasi-inovasi yang ada di teknologi. 

Mengingat peran vitalnya di dunia penerbangan, tentu jadi kabar baik jika black box bisa lebih kekinian lewat tambahan teknologi canggih pada zaman now.

Learn more »