Feature news

Tampilkan postingan dengan label google security. Tampilkan semua postingan

Mengenal TAG, Satpam Cyber Andalan Google

Dengan berbagai produk yang dimiliki, Google tentu perlu menjaga keamanannya sendiri dan juga penggunanya. 

 

Untuk itulah mereka punya 'satpam siber' yang bernama Threat Analysis Group (TAG).

 

Misi yang diemban Threat Analysis Group (TAG) Google cukup menantang, yaitu memahami dan melawan peretasan yang membidik pihak-pihak tertentu dan peretasan yang didukung pemerintah serta ancaman-ancaman yang dilakukan secara daring terhadap Google dan pengguna.

 

Tugas utama TAG adalah mendeteksi dan menggagalkan ancaman, lalu juga memperingatkan pengguna dan pelanggan yang jadi calon target. Cakupan bermacam, termasuk menjaga keamanan Gmail, Drive, dan YouTube.

 

Tim TAG ini bekerja secara global dan setidaknya ada 270 kelompok hacker yang diawasi, termasuk kelompok hacker yang didukung pemerintah, di lebih dari 50 negara.


 

Kelompok-kelompok ini memiliki banyak tujuan, termasuk mengumpulkan data intelijen, mencuri hak kekayaan intelektual, menyasar pembangkang dan aktivis, melakukan serangan terhadap dunia maya yang dapat merusak, atau menyebarkan disinformasi secara terkoordinasi.

 

Mereka pun menggunakan data intelijen yang dikumpulkan untuk menyetop aktivitas malware dan juga phishing yang mengancam infrastruktur Google serta penggunanya.

 

Salah satu bentuk peringatan yang dikeluarkan TAG adalah jika mereka mendeteksi adanya upaya phishing yang disponsori negara ke penggunanya. 

 

Penggunanya ini biasanya ditargetkan melalui email, dan upaya phishing tersebut dilakukan untuk mendapatkan data pribadi, seperti kata sandi atau informasi pribadi lain yang nantinya akan dipakai untuk membajak akun target.

 

Selain itu TAG juga menjadi salah satu cara Google menyetop penyebaran jaringan disinformasi yang menggunakan layanannya untuk menyebarkan disinformasi tersebut.

 

Banyaknya produk Google yang harus ditangani ini dianggap Shane Huntley, bos TAG, saat berbicara ke media pada Jumat (18/3) sebagai sebuah keuntungan. 

 

Pasalnya saat mereka menemukan adanya ancaman, informasi tersebut disebarluaskan dan diterapkan di berbagai produk Google.

Learn more »

Wah, Speaker Pintar Google Nguping Seisi Rumah

Google secara tidak sengaja mengaktifkan fitur di Google Home yang memungkinkan speaker pintar tersebut mendengarkan suara berbagai objek di ruangan atau di rumah si pemilik speaker.

Salah satu pengguna, melalui forum Reddit, berbagai cerita bahwa dirinya menemukan notifikasi dari Google Home di ponselnya yang memberitahukan bahwa detektor asap di dapurnya mati ketika dia memasak.

Untuk diketahui, perangkat Google Home biasanya hanya akan merespons jika mendengar kalimat perintah untuk mengaktifkannya seperti 'Ok, Google' atau 'Hey, Google'.

"Namun kali ini speaker pintar tersebut mendengarkan suara pasif dan membuat detektor asap 'bodoh' saya menjadi pintar," tulis pengguna Reddit seperti dikutip dari The Independent.

Pengguna lain melaporkan bahwa mereka mendapatkan notifikasi untuk suara gelas pecah, gelembung bubble wrap yang diletuskan, tangki kompresor udara, dan suara-suara bernada tinggi lain yang terdengar seperti alarm.

Merespons banyaknya laporan, juru bicara Google mengatakan bahwa fungsi ini secara tidak sengaja aktif pada update software terbaru mereka. Menurut Google, saat ini celah tersebut sudah diperbaiki.

Google dengan tegas menyebutkan bahwa satu-satunya cara Google Home mendengar dan menuruti perintah pengguna adalah melalui 'Ok Google' atau 'Hey Google'.
Learn more »

Awas! 25 Aplikasi Android Ini Curi Password Facebook

Aplikasi jahat masih terus menghantui pengguna Android.

Google baru saja menghapus 25 aplikasi Android dari Google Play Store karena ketahuan mencuri password Facebook milik pengguna.

Dikutip dari ZDNet, sebelum dihapus, 25 aplikasi ini sudah diunduh sebanyak 2,34 juta kali.

Semua aplikasi ini dikembangkan oleh kelompok yang sama, dan meski menawarkan beragam fitur, aplikasi ini terlihat memiliki cara kerja yang sama.

Berdasarkan laporan dari perusahaan keamanan siber Evina, aplikasi jahat ini berkedok sebagai aplikasi untuk menghitung langkah, editor video, editor foto, aplikasi wallpaper, aplikasi senter, manajer file dan mobile game.

Aplikasi-aplikasi ini sebenarnya berfungsi seperti klaimnya, tapi juga diam-diam memiliki kode berbahaya di dalamnya.

Peneliti Evina mengatakan aplikasi ini memiliki kode yang bisa mendeteksi aplikasi apa yang baru dibuka pengguna dan sedang aktif di layar.

Jika aplikasi yang dibuka adalah Facebook, aplikasi jahat ini akan menampilkan halaman browser di atas aplikasi resmi Facebook. Kode jahatnya langsung memuat halaman login Facebook di halaman browser tersebut.

Jika pengguna memasukkan alamat email dan password untuk akun Facebook mereka di halaman phishing ini, aplikasi jahat tersebut akan menyimpan data dan mengirimkannya ke server di domain airshop.pw yang kini sudah tidak aktif.

Evina mengatakan mereka menemukan kode jahat di 25 aplikasi ini dan melaporkannya ke Google pada akhir Mei.

Google kemudian menghapus aplikasi yang dilaporkan pada awal bulan Juni setelah memverifikasi laporan Evina.

Beberapa dari aplikasi ini telah berada di Play Store selama lebih dari satu tahun, sehingga mereka bisa diunduh hingga jutaan kali.

Berikut ini adalah daftar 25 aplikasi yang dihapus Google karena ketahuan mencuri password Facebook.
Learn more »

Google Akan Hapus Data Pribadi Setelah 18 Bulan

Google mengubah praktik penanganan data di platformnya dengan mengumumkan akan secara otomatis menghapus data pribadi pengguna baru setelah jangka waktu tertentu.

Dikutip dari postingan blog resmi Google, CEO Google Sundar Pichai mengatakan bahwa saat ini Google berfokus pada tiga prinsip penting dalam hal data pengguna.

"Menjaga informasi Anda tetap aman, memperlakukannya secara bertanggung jawab, dan membuat Anda memegang kendali.

Hari ini, kami mengumumkan peningkatan privasi untuk membantu melakukan itu," tulisnya.

Seperti diketahui, Google memiliki banyak layanan yang mengumpulkan data pribadi, termasuk Chrome, YouTube, dan Maps.

Data itu membantu Google menawarkan pengalaman yang disesuaikan dengan personal pengguna.

Namun di sisi lain, hal ini mengkhawatirkan mereka yang sadar akan privasi.

Google sekarang sepertinya paham, sehingga tergerak mengumumkan kebijakan baru yang akan menghapus riwayat pengguna baru secara otomatis setelah 18 bulan.

Kebijaka ini merupakan perluasan dari apa yang sebelumnya sudah tersedia.

Tahun lalu, Google mulai membiarkan pengguna secara otomatis menghapus riwayat mereka setelah tiga atau 18 bulan, namun fitur ini tidak diaktifkan secara default.

Sekarang, Google akan menghapus data riwayat pencarian, riwayat lokasi, dan perintah suara dari Google Assistant atau Google Home.

Google mencatat data kalian di halaman Aktivitas Saya (My Activity), tempat kalian juga bisa secara manual menghapus poin tertentu.

Perlu dicatat, default baru Google ini hanya berlaku untuk pengguna baru.

Akun Google yang sudah lama tidak akan mengalami perubahan pengaturan meskipun bisa diaktifkan dari halaman Aktivitas (Activity).

Sebagai bagian dari pengumuman ini, Google juga akan menyederhanakan mode Penyamaran (Incognito) di browser Chrome yang memungkinkan pengguna mobile beralih ke mode Incognito dengan melakukan long-press (menekan lama) pada gambar profil mereka.

Fitur ini diluncurkan 24 Juni di iOS dan akan segera hadir di Android dan platform lainnya.
Learn more »