Sepekan setelah Clubhouse
memperketat keamanan untuk memastikan data pengguna tidak dapat dicuri,
setidaknya satu peretas membuktikan platform audio chatroom tersebut
bisa "disedot".
"Seorang pengguna tak dikenal melakukan streaming
feed audio Clubhouse dari multiple rooms ke website pihak ketiga milik
mereka sendiri," kata Reema Bahnasy, juru bicara Clubhouse seperti
dikutip dari Bloomberg.
Padahal, Clubhouse secara permanen melarang pengguna tertentu
melakukannya, dan memasang lapisan keamanan baru guna mencegahnya.
Sedangkan para peneliti berpendapat, Clubhouse tidak menjanjikan
pengguna aman dari peretasan tersebut.
Adalah Stanford Internet Observatory (SIO) yang pertama kali
mengungkapkan bahwa semua pengguna Clubhouse, meski telah secara khusus
diundang, harus menganggap bahwa semua percakapan sedang direkam.
"Clubhouse
tidak dapat memberikan janji privasi untuk percakapan yang diadakan di
mana pun di seluruh dunia," kata Alex Stamos, direktur SIO dan mantan
kepala keamanan Facebook.
Sebelumnya Stamos dan timnya juga dapat
mengonfirmasi bahwa Clubhouse mengandalkan startup yang berbasis di
Shanghai bernama Agora Inc.
untuk menangani sebagian besar
operasionalback-end mereka.
Sementara Clubhouse bertanggung jawab atas
pengalaman penggunanya, platform tersebut mengandalkan perusahaan asal
China untuk memproses lalu lintas data dan produksi audionya.
Ketergantungan Clubhouse
pada Agora menimbulkan kekhawatiran privasi yang luas, terutama bagi
warga China yang mengandalkan Clubhouse agar percakapan mereka berada di
luar jangkauan pengawasan negara.
Agora sendiri merespons hal ini
dengan mengatakan pihaknya tidak dapat mengomentari keamanan atau
protokol privasi Clubhouse dan bersikeras tidak menyimpan atau berbagi
informasi pribadi untuk kliennya.
"Kami berkomitmen untuk membuat produk kami seaman mungkin," kata perusahaan itu.
Namun yang terjadi, pakar keamanan cyber mendeteksi bahwa audio dan metadata bisa ditarik dari Clubhouse ke situs lain.
"Seorang
pengguna menyiapkan cara untuk membagikan loginnya dari jarak jauh
dengan seluruh dunia.
Masalah sebenarnya adalah orang-orang mengira
percakapan ini pernah bersifat pribadi," kata Robert Potter, Chief
Executive Officer Internet 2.0 yang berbasis di Canberra, Australia.
Stamos
dari SIO menyebutkan, pelaku di balik pencurian audio ini membangun
sistem mereka sendiri di sekitar toolkit JavaScript yang digunakan untuk
mengkompilasi aplikasi Clubhouse.
"Mereka secara efektif mengakali platform. SIO belum menentukan asal atau identitas penyerang," sebutnya.
Sejauh ini, Clubhouse
belum bersedia menjelaskan langkah apa yang diperlukan untuk mencegah
terjadinya pelanggaran serupa.
Sejumlah ahli keamanan menyebutkan,
solusinya mungkin termasuk mencegah penggunaan aplikasi pihak ketiga
untuk mengakses audio chatroom tanpa benar-benar memasukinya atau
membatasi jumlah chatroom yang dapat dimasuki pengguna secara bersamaan.