Sejumlah investor ByteDance menawar TikTok --
anak usahanya -- dengan nilai sekitar USD 50 miliar atau sekitar Rp 733
triliun, jauh lebih tinggi dibanding pesaingnya seperti Snap.
Menurut
sejumlah sumber yang dikutip Reuters, para investor
ByteDance seperti Sequoia dan General Atlantic sudah mengajukan proposal
untuk memindahkan mayoritas kepemilikan TikTok ke mereka.
Tak cuma itu, ada sejumlah perusahaan lain yang sudah menyatakan ketertarikannya untuk mengakuisisi TikTok.
Penawaran
yang diajukan oleh para investor ByteDance itu mencapai USD 50 miliar,
atau 50 kali lebih besar dari proyeksi pemasukan TikTok pada 2020, yang
hanya USD 1 miliar.
Sebagai perbandingan, valuasi Snap saat ini hanya 15
kali dari proyeksi pemasukan mereka pada 2020, atau sekitar USD 33
miliar.
Padahal, ByteDance 'hanya' mengeluarkan uang sebesar USD 1 miliar
untuk mengakuisi Musical.ly pada 2017, yang kemudian mereka sulap
menjadi TikTok pada tahun yang sama.
Belum jelas langkah apa yang
akan diambil oleh pendiri dan CEO ByteDance Yiming Zhang.
Baru-baru ini
para eksekutif ByteDance mendiskusikan valuasi TikTok yang melebihi USD 5 miliar.
TikTok
saat ini tumbuh sangat cepat karena mereka menghasilkan sangat banyak
uang dari iklan.
Mereka memperkirakan pemasukannya akan mencapai USD 6
miliar pada 2021. Sementara itu,
Douyin -- TikTok versi China -- saat
ini punya target pemasukan mencapai USD 28 miliar pada 2020.
ByteDance
yang merupakan induk TikTok saat ini mempunyai valuasi USD 140 miliar,
yang terungkap saat Cheetah Mobile -- salah satu pemegang sahamnya --
menjual sebagian kecil sahamnya di perusahaan itu.
ByteDance
sendiri saat ini memang tengah mempertimbangkan sejumlah opsi untuk
TikTok, yang saat ini berada dalam tekanan dari pemerintah Amerika
Serikat.
Di Negeri Paman Sam, TikTok sendiri sangat populer di kalangan
remaja.
Namun di sisi lain, TikTok terus
menjadi bulan-bulanan pemerintah AS lewat berbagai pernyataan dan
pelarangan penggunaan aplikasi tersebut.
Seperti melarang semua pegawai
pemerintah federal AS menggunakan TikTok di perangkat milik negara
karena masalah keamanan.
Bahkan, Presiden Donald Trump tengah
mempertimbangkan untuk memblokir aplikasi tersebut secara penuh di AS,
sama seperti yang mereka lakukan pada Huawei.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar