Twitter sedang
mencari cara baru untuk mendapatkan pemasukan lebih banyak dari
penggunanya. Salah satunya dengan menggulirkan layanan berlangganan.
Hal ini diungkapkan CEO Twitter, Jack Dorsey
saat berbicara dengan analis Wall Street setelah menjabarkan laporan
keuangan Twitter.
Metode baru ini dipertimbangkan setelah bisnis iklan
Twitter mengalami penurunan yang signifikan.
"Kalian kemungkinan akan melihat beberapa uji coba tahun ini," kata Dorsey seperti dikutip dari CNN.
Dorsey mengatakan ia memiliki batasan yang sangat tinggi ketika kita
akan meminta konsumen untuk membayar aspek-aspek layanan Twitter.
Ia
juga memastikan bahwa proses pencarian sumber pendapatan baru ini masih
berada di tahap awal.
Sebenarnya rumor tentang layanan
berlangganan di Twitter telah merebak sejak awal bulan Juli.
Hal ini
terkuak setelah muncul lowongan kerja yang diunggah Twitter untuk tim
internal baru bernama 'Gryphon' yang sedang membangun platform
berlangganan.
Sama seperti media sosial saingannya, Twitter memang menawarkan layanan gratis tapi mendapatkan pemasukan dari pengiklan yang bisa menargetkan iklan kepada pengguna.
"Kami ingin memastikan jalur pendapatan baru saling melengkapi dengan bisnis iklan kami," kata Dorsey.
"Kami
pikir ada dunia di mana berlangganan saling melengkapi, di mana
perdagangan saling melengkapi, di mana membantu orang mengelola paywall,
kami pikir saling melengkapi," pungkasnya.
Pertimbangan Twitter
untuk menghadirkan layanan berlangganan muncul setelah laporan
pendapatan kuartal kedua yang tidak sesuai ekspektasi.
Dalam
laporan keuangan di kuartal kedua yang berakhir pada 30 Juni, Twitter
meraup pendapatan sebanyak USD 683 juta.
Angka ini meleset dari USD 707
juta yang diperkirakan Thomson Reuters dan turun 19% year over year.
Bisnis
iklan yang menjadi sumber pendapatan utama Twitter menyumbang USD 562
juta di kuartal kedua, turun 23% year over year.
Twitter mengatakan
bisnis ini mulai pulih di tiga minggu terakhir kuartal ini.
Selain karena pandemi virus Corona, Twitter mengatakan
pengiklan enggan mengeluarkan uang karena protes besar-besaran di
Amerika Serikat pada bulan Juni setelah kematian George Floyd di tangan
polisi.
Tapi, setidaknya perusahaan berlogo burung ini berhasil
mendulang lebih banyak pengguna baru.
Twitter melaporkan saat ini mereka
memiliki 186 juta pengguna aktif harian, naik 34% dari periode yang
sama di tahun lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar