Banyak pengguna media sosial asal membagikan atau retweet berita hanya dengan melihat judulnya, tanpa membacanya terlebih dahulu.
Hal ini membuat Twitter menggelontorkan fitur baru sebagai solusi permasalahan itu.
Fitur
yang sedang diujicoba pada sebagian pengguna Twitter itu pada intinya
menanyakan pada user apakah mereka mau membaca dulu sebelum membagikan
sebuah link.
Membaca berita tentu akan memberikan pemahaman jauh lebih
baik daripada sekadar membaca judulnya.
"Berbagi artikel dapat
memicu percakapan, jadi Anda mungkin ingin membacanya sebelum Anda
melakukan tweet itu," sebut Twitter dalam pengumumannya.
"Kami sedang menguji pemberitahuan baru di Android, ketika Anda
retweet sebuah artikel yang belum Anda buka di Twitter, kami mungkin
akan menanyakan apakah Anda ingin membukanya terlebih dahulu," tambah
mereka.
Masih dalam tahap ujicoba, belum diketahui kapan fitur
tersebut diterapkan secara menyeluruh. Mungkin jika dianggap efektif,
Twitter akan mengimplementasikannya pada semua user.
"Ini masih
merupakan eksperimen dan saat ini hanya diaplikasikan pada pengguna
Android, itu pun tidak semua.
Pengguna Twitter di Android yang akan
melakukan retweet sebuah artikel tanpa membaca artikelnya lebih dulu,
akan mendapatkan notifikasi ini," demikian pernyataan pihak Twitter
Indonesia.
"Beberapa
eksperimen lainnya yang kami lakukan baru-baru ini termasuk pengaturan
percakapan dan safety notification prompt.
Ini semua merupakan bagian
dari upaya kami untuk meningkatkan kesehatan percakapan publik di
Twitter," tambah mereka.
Permasalahan user membagikan link tanpa
membacanya terlebih dahulu bukan hal baru.
Studi dari Columbia
University dan Microsoft di tahun 2016 menemukan bahwa 59% link di
Twitter tidak pernah diklik atau dibuka.
Hal serupa terjadi di Facebook.
Penelitian di tahun yang sama, seperti dikutip dari Guardian, menyebutkan bahwa 70% user Facebook hanya membaca judul
dan langsung berkomentar, dengan sampel saat itu berita sains yang
padahal tidak benar.
Twitter sepertinya sedang berusaha membuat
platformnya lebih sehat tanpa harus menyensor.
Bulan lalu, Twitter
memperkenalkan fitur yang mendorong pengguna untuk merevisi atau
mengedit tweetnya sebelum diposting, terutama jika isi tweet tersebut
yang mungkin dianggap berbahaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar