Tim ilmuwan merancang speech recognition bot untuk menganalisa ucapan
orang. Saat dicoba ke Presiden Amerika Serikat Donald Trump, botnya
langsung rusak!
Bukan bercanda, hal ini sungguh dialami startup teknologi FactSquared yang membuat bot artificial intelligence
untuk menganalisa pidato pada manusia.
Dikutip dari LA Times, CEO Bill Frischling menceritakan pengalaman aneh pada
programnya itu.
Bot bernama Margaret ini menganalisa pidato Trump
dalam peringatan 75 tahun Perang Laut Coral antara AS-Australia VS
Jepang pada 4 Mei 2017 silam.
Apa yang terjadi? Programnya mengalami crash.
Botnya
gagal memahami pidato Trump. Mereka lalu terpaksa membuang coding
terkait tata bahasa dan syntax supaya botnya bisa memahami ucapan Trump.
"Programnya mencoba memahami kalau itu bahasa Inggris, versus memahami kalau itu bahasa Trump," kata Frischling.
Bot
ini adalah alat pembelajaran mesin untuk memahami kondisi emosi dan
psikologi pada manusia.
Setelah coding tata bahasa tersebut dibuang,
barulah Margaret bisa melakukan analisa terhadap berbagai pidato Trump.
Menurut
bot Margaret ini, Trump bicara lebih cepat saat improvisasi ketimbang
membaca naskah pidato. Dari 111 kata per menit menjadi 220 kata per
menit.
Bot ini menyebutkan, saat Trump berbohong, dia hanya
sedikit menunjukkan ketegangan fisik dibandingkan orang pada umumnya.
Saat sedang marah, Trump berhenti menggerakkan tangannya. Dia memainkan
tangannya saat pidato jika tidak sedang marah.
"Jadi kalau dia berhenti membuat gestur tangan, hati-hati," kata Frischling.
Ada satu kesimpulan lain yang diungkap bot Margaret. Menariknya, ucapan dan perbuatan Presiden AS Donald Trump ternyata tidak nyambung. Waduh!
"Jadi
bisa saja dia bisa bilang sebuah kebijakan jelek, tapi kemudian dia
akan tanda tangan peraturan presiden terkait kebijakan itu," kata
Frischling.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar