Ada teman saya baru tertipu belanja di salah satu marketplace
sampai jutaan, yang saya heran sistem pembayarannya kan kalau pembeli
tidak menerima barang maka uang ada ditahan.
Tapi
bagaimana bisa penjual itu mengambil alih akun-akun si pembeli ini
seolah transaksi telah selesai? Apa yang harus kita lakukan untuk
mencegah hal tersebut.
Jawaban :
Memang sekarang ini, penipuan terhadap layanan online sedang marak,
kita harus ekstra hati-hati.
Banyak yang mengira, para penipu ini
menggunakan rekayasa canggih dengan meng-hack sistem, tetapi sistem
penjualan online yang ternama biasanya sulit ditembus dan senantiasa
diperbaharui securitynya.
Maka yang dilakukan para penipu adalah
dengan cara yang dikenal sebagai rekayasa social engineering,
memanfaatkan kelemahan pengguna, untuk tanpa sadar membocorkan sendiri
username dan password akunnya.
Cara ini bisa lewat email yang
menyertakan link ke web tiruan, memberitahukan ada pembaharuan sistem
dan harus mengganti password pada link website palsu yang disertakan,
SMS atau telepon seolah-olah dari layanan asli, dan lain sebagainya,
dengan inti mendapatkan username dan password, bahkan sampai
menakut-nakuti akun akan tidak bisa digunakan jika tidak segera diganti.
Kejahatan ini ada yang berskala perorangan, sampai skala kelompok
penjahat lintas negara.
Walau tidak tahu detailnya secara pasti,
saya perkirakan teman anda kemungkinan biasanya berbelanja online dengan
menggunakan kartu kredit, atau uang digital.
Memang pembayaran
baru diberikan marketplace ke penjual ketika barang sudah diterima,
tetapi ketika username dan password akun kita sudah dikuasai, dengan
mudah penipu bisa meng-klik kalau pesanan sudah tiba dan barang sudah
diterima, yang secara otomatis sistem di marketplace akan mengirimkan
dana.
Setiap hari ada ribuan transaksi di masing-masing marketplace, jadi
jangan berharap para pekerja marketplace bisa memantau dengan detail
setiap transaksi, dan CS bisa tersedia kapan saja untuk membantu kita,
kita sendiri yang harus benar-benar menjaga keamanan akun kita.
Ini ada beberapa saran supaya tidak mudah tertipu atau dibobol.
-
Kalau transaksi menggunakan kartu kredit, pastikan tidak boleh ada yang
bertanya tentang 3 angka di belakang kartu kredit atau yang dikenal
sebagai CVC, walau
mengaku sebagai CS dari marketplace atau CS bank penerbit kartu kredit sekalipun.
-
Walaupun nyaman meninggalkan nomor kartu kredit terekam di akun kita di
marketplace atau online store, jangan lakukan hal tersebut.
Sedikit
repot setiap transaksi untuk selalu memasukkan nomor kartu kredit lebih
baik daripada isinya dibobol.
- Demikian juga dengan uang digital,
seperti ovo, gopay, link aja, online store digital money, dan pay-pay
lainnya, sebaiknya isinya tidak besar-besar, seperlunya saja.
-
Selalu curiga ketika ada SMS OTP (One Time Password) dari layanan online
manapun disaat kita tidak melakukannya.
Jangan pernah berikan nomor OTP
ini ke pihak lain, karena nomor OTP ini yang sekarang paling diburu
para penipu online untuk mengambil alih akun.
- Password jangan
mudah ditebak, misalnya angka kelahiran, nama anak, istri, angka
berurutan dll, karena sekarang ini kita terhubung dengan media sosial,
dan orangmudah men-tracing tentang kita.
Gunakan kombinasi password yang
lebih rumit, gabungan angka, huruf, dan tanda baca. Secara berkala,
ubah juga password kita,kalau kita takut lupa password berbagai layanan
yang banyak, gunakan aplikasi password manager di smartphone, misal
1Password.
- Setiap ada laporan transaksi mencurigakan, segera
bikin laporan ke CS marketplace bersangkutan, jika sulit, bisa juga
menghubungi bank penerbit kartu kredit atau layanan uang digital.
Menurut saya pribadi, memang sebaiknya otentifikasi dengan SMS OTP walau
nyaman dan mudah, sudah saatnya diganti dengan otentifikasi yang lebih
kecil resikonya, seperti aplikasi otentifikasi di smartphone atau
komputer, misalnya seperti Google Authenticator.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar